Senin, 26 Agustus 2013

Untukmu Abahku bag-2

Di saat remaja itu pula lah, ibu mengalami sakit yang luar biasa bah. Sampai harus berbulan-bulan berada di rumah sakit untuk proses penyembuhan, tapi aku bersyukur Alhamdulillah, ibu masih di berikan umur untuk bisa merawatku. Di saat ibu sakit itulah, aku benar2 merasakan kehidupan remaja yang sudah terjadi di zaman sekarang ini. Aku mulai ikut bergaul dengan kawanan yang mengarah kepada kebathilan. Tapi aku terus bertawakal bah agar aku tidak sepenuhnya terjerembab dalam dunia bathil. Malah aku bersyukur Allah menunjukkan jalan hidupku untuk tau pergaulan yang seperti itu agar kelak aku dapat membimbing anak2 ku, agar dapat lebih memperhatikan kehidupan remaja mereka. Aku ingin mereka menjadi seperti mu bah, hapal Al-Quran, menjadi Qori dan Qoriah, menjadi imam besar, namun mereka juga tau bagaimana kehidupan yang bathil agar mereka dapat mengambil pelajaran serta berusaha mengajak mereka yang bathil untuk kembali ke jalan yang benar.
Bah, sejujurnya aku iri kepada mereka yang masih lengkap orang tuanya. Di saat aku jauh, teman2 ku senantiasa mendapat telpon dari orang tua mereka, menanyakan kabar dari mereka, membimbing mereka untuk terus berusaha menyelesaikan program studi mereka. Tapi bah, tau kah kalo aku sebenarnya lebih bersyukur daripada mereka, banyak hal yang aku banggakan karena tidak ada sosok mu. Yang jelas, aku bisa menguatkan kawan2 ku di saat mereka kehilangan sosok ayah mereka, aku berusaha mengajak mereka untuk lebih ikhlas dan sabar dalam menerima cobaan. Bukannya aku sok bah, tapi karena aku sudah merasakan bagaimana dulu waktu abah meninggalkan ibu, kakak2 ku dan jelas nya juga aku.
Kepergianmu yang tiba2 itu, benar2 membuat aku shock. Padahal malam itu, abah masih menidurkan aku di depan tipi. Di kasur yang memang di sediakan untukku. Masih ingat sekali aku apa yang abah ucapkan saat itu. Tepat jam 9 malam abah menyuruhku untuk segera hanyut dalam tidurku. Mengingatkan ku untuk bangun pagi agar tidak terlambat pergi ke sekolah. Tapi bah, apa yang aku dapati pada pukul 1 dinihari. Aku di bangunkan oleh bang ica, yang aku kira saat itu abah yang membangunkan ku dengan segelas susu campuran susu putih, milo dan gula yang hangat. Tapi ternyata aku malah mendapat kabar yang membuat sesak seluruh dadaku. Ya, abah pergi untuk selama-lamanya. Perasaan apa yang ada saat itu bah, aku tak pernah bisa mengungkapkannya sampai detik ini. Tak ada lagi sosok abah yang bisa ku peluk saat abah mengajak ku untuk pergi keluar dengan menggunakan vespa, tak ada lagi sosok abah yang biasa menidurkan ku di setiap malamnya, tak ada lagi sosok abah yang biasa mencandaiku dengan lawakan, tak ada lagi sosok yang biasa mengajarkan aku mengaji saat selesai menunaikan ibadah maghrib, tak ada lagi sosok yang biasa membangunkan ku dengan segelas susu hangat. Ya, abah sudah pergi. Hanya itu lah segelintir ingatan yang bisa aku ungkapkan.
Saat itu aku benar2 tidak tahu apa makna dari kematian yang telah mampir ke abah, hanya saja, aku tidak dapat membendung tumpahan tangis air mataku di saat aku melihat seluruh keluarga melihat jenazah mu, tak kuasa menahan tangis saat hendak mencium mu terakhir kalinya. Aku takut bah, aku takut sekali saat itu dengan kepergian mu, kematian yang memisahkan kita, hanya membuatku takut untuk terus melangkah. Banyak yang menangisi kepergianmu bah, mulai dari keluarga, kerabat bahkan sampai kawan lama yang jarang abah jumpai. Itu membuktikan bahwa abah begitu di cintai oleh begitu banyak orang, apalagi di umur abah yang baru setengah abad. Aku sudah tidak bisa berkata apa2 lagi bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar