Senin, 26 Agustus 2013

Untukmu Abahku bag-1

Assalamualaikum wr wb. Apa kabar mu di alam yang kekal sana bah? Tak lelah aku berdoa untuk mu melalui doa yang aku panjatkan. Aku hanya ingin bercerita padamu, terkait bagaimana kondisi ku saat ini. Setelah 24 tahun aku hidup di dunia fana ini, aq mulai benar2 menyadari ttg arti kehidupan ku. Tapi proses belajar ku tak akan pernah padam sampai hembusan akhir napas ku. Bah, memang tak lama kita bersama di dunia ini. Hanya 10 tahun engkau mengasuhku, memanjakanku, merawatku tanpa engkau pernah mengeluh sekalipun walau ibu sering meninggalkan aku dan abah untuk berobat. Abah selalu memperjuangkan kehidupan ibu, tanpa memperhatikan derita sakit yang abah alami sendiri. Mungkin ini hanya pendapat ku saja karena jelas aku tak begitu mengetahui dunia saat kita masih bersama dulu. Saat di mana hanya bermain yang ingin aku rasakan, kasih sayang sebagai anak bungsu dalam keluarga. Namun bah, aku menyadari bahwa perjuangan abah tidaklah mudah. Untuk itu mencoba untuk bersikap dewasa di saat umurku masih kanak-kanak. Tidak ingin terlalu merepotkan abah serta kakak-kakakku. Namun aku saat itu tetaplah anak kecil yang sangat ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga. Bah, di saat aku memelukmu dari belakang, saat aku di gonceng oleh mu menggunakan vespa itu. Merupakan hal yang paling indah selama kita bersama. Tak akan pernah ku lupa, karena lingkaran perut abah yang besar itu, tanganku tak cukup untuk saling bertemu agar aku bisa memelukmu dengan kuat bah. Dan sekarang vespa itu aku gunakan bah, untuk keperluan hidupku sehari-hari. Vespa itu akan ku rawat bah, berapapun biaya nya akan ku tanggung. Karena banyak kenangan kita berdua di vespa itu. Bah, aku juga bersyukur abah sempat mengajarkan ku bagaimana mengaji, Membaca ayat suci al-quran, Bersenandung dalam melafalkan ayat suci al-quran, dan memotivasiku untuk ikut dalam Musabaqoh Tilawatil Quran. Piala yang dl aku dapatkan saat umur 4 tahun itu, masih ada tersimpan bah. Piala yang aku anggap sebagai bentuk rasa sayang mu kepadaku. Aku tau abah pasti ingat sekali, berapa lama abah mengajarkanku untuk bisa melafalkan surah an-najm, dan saat aku naik ke atas panggung pun, abah berdiri di belakang ku, membantu mengingatkan ku nada lagu yang harus aku lantangkan, Sampai di akhir ayat. Foto itu masih ada bah, sewaktu-waktu aku melihat foto itu untuk mengobati rasa rinduku kepadamu. Walaupun aku tak sempat untuk menghatamkan al-quran saat abah masih ada. Tapi pelajaran dari abah tak akan ku lupakan. Bah, saat ini aku sudah beranjak dewasa. Saat remaja dulu, aku mencoba untuk mencari seorang panutan yang bisa ku ikuti, karena aku kehilangan sosokmu bah. Sebagai seorang laki-laki, sosokmu bah sangat berarti dalam hidupku. Sampai saat ini pun, aku masih mencari sosok panutan yang bisa aku jadikan contoh untuk hidupku kelak yang akan datang. Siapakah bah? Siapa sosok itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar